|
|
Gue.
Yoo.
Sebenarnya gue sedikit kebingungan. Gue berbicara dengan sebuah bahasa yang bernama 'Lu-Gue'. Tapi, gue juga berbicara dengan bahasa baku yang sangat sopan. Memakai tanda titik, lagi. Hu-waaah. Gue sama sekali tidak peduli dengan E-Y-D atau apalah namanya yang aneh itu. Apakah gue ingin bertanya dengan tanda titik—bukan tanda tanya—terserah pada gue.
Gue adalah seorang gadis yang benar-benar tersiksa.
Tersiksa. Ya, tersiksa. Baik di sekolah, mau pun di rumah. Gue masih kecil. Masih duduk di Sekolah Dasar. Dan gue masih berumur dua belas tahun. Gue masih menuntut ilmu.
Di sekolah. Gue memiliki banyak sekali teman. Ada yang baik, dan ada yang—mungkin—jahat. Gue punya sahabat dan musuh. Sahabat, hanya sedikit. Itu pun, mungkin tidak bisa dikatakan sebagai seorang sahabat sejati. Mereka, sahabat-sahabat gue, juga memiliki sahabat lain. Dan kemungkinan besar hubungan sahabat gue dengan sahabatnya yang lain lebih erat.
Soal musuh di sekolah gue, itu-lah yang paling membuat gue menderita.
Gue dikucilin.
Gue difitnah.
Gue diledek.
Gue dipukul.
Gue dicerca.
Gue diusir dari rumah teman sendiri.
Gue ... Mereka bertindak di hadapan gue, seolah-olah mereka baik. Karena gue suka gambar, dan maaf, karena gue selalu masuk peringkat tiga besar, mereka memuji gue. Berkata bahwa gue pinter. Sok baik. Namun, di belakang gue, mereka menusuk-nusuk gue dengan gergaji mesin.
Apa yang kurang, coba.
Gue sudah tidak kuat. Gue tidak sekuat pria. Gue tidak bisa bela diri.
Sampai-sampai, gue berpikir kalau gue ingin membunuh diri.
Dan sekarang, persoalan gue di rumah. Gue memiliki tiga orang adik. Dan gue adalah anak pertama,
yang selalu dikeroyok oleh ketiga adik. Adik gue yang paling besar, seringkali berteriak ketika gue pulang sekolah, "Ayoo seraaang diaaaaaaaaaa."
Dan alhasl, gue dibacokin. Ditendangin, dipukulin. Dan itu tidak hanya sekali. Hal itu bisa terjadi sepuluh kali dalam sehari. Gue tidak pernah melawan, gue hanya diam.
Sampai-sampai gue berpikir, gue ingin kabur dari rumah.
Suatu hari ketika kelas empat, gue mengemas barang-barang ke dalam tas. Makanan, minuman, uang, buku, dan berbagai hal lainnya. Gue loncat dari jendela, kabur dari rumah. Gue pergi seharian penuh. Sampai malam hari, gue ingin buang air. Tapi tidak tahu harus di mana. Akhirnya gue pulang ke rumah karena tidak tahan. Dan pulang-pulang, gue dimarahin gara-gara kabur.
Selesai.
Kepribadian gue di rumah. Gue adalah anak yang paling tertutup. Sepulang sekolah, gue ke kamar, menutup pintu. Gue buka handphone atau laptop gue. Online, mengerjakan naskah, atau membuat komik. Sampai malam, gue tidak keluar dari kamar, kecuali ingin minum atau ke kamar mandi. Gue kurang akrab dengan orangtua. Karena seharian gue menyendiri, menyendiri dalam kamar.
Teman-teman gue di sekolah yang baik, mungkin menganggap gue terlihat ceria. Tap sebenarnya hati gue menangis. Gue tidak pernah cerita kalau ada masalah. Gue tidak pernah berkata blak-blakan kalau benci dengan orang. Gue tidak pernah sekali pun berkata "tidak" kalau keberatan. Itu alasannya, hati gue benar-benar lembek.
Gue selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.
Tapi ... itu. Berlebihan.
Gue.
Yoo.
Sebenarnya gue sedikit kebingungan. Gue berbicara dengan sebuah bahasa yang bernama 'Lu-Gue'. Tapi, gue juga berbicara dengan bahasa baku yang sangat sopan. Memakai tanda titik, lagi. Hu-waaah. Gue sama sekali tidak peduli dengan E-Y-D atau apalah namanya yang aneh itu. Apakah gue ingin bertanya dengan tanda titik—bukan tanda tanya—terserah pada gue.
Gue adalah seorang gadis yang benar-benar tersiksa.
Tersiksa. Ya, tersiksa. Baik di sekolah, mau pun di rumah. Gue masih kecil. Masih duduk di Sekolah Dasar. Dan gue masih berumur dua belas tahun. Gue masih menuntut ilmu.
Di sekolah. Gue memiliki banyak sekali teman. Ada yang baik, dan ada yang—mungkin—jahat. Gue punya sahabat dan musuh. Sahabat, hanya sedikit. Itu pun, mungkin tidak bisa dikatakan sebagai seorang sahabat sejati. Mereka, sahabat-sahabat gue, juga memiliki sahabat lain. Dan kemungkinan besar hubungan sahabat gue dengan sahabatnya yang lain lebih erat.
Soal musuh di sekolah gue, itu-lah yang paling membuat gue menderita.
Gue dikucilin.
Gue difitnah.
Gue diledek.
Gue dipukul.
Gue dicerca.
Gue diusir dari rumah teman sendiri.
Gue ... Mereka bertindak di hadapan gue, seolah-olah mereka baik. Karena gue suka gambar, dan maaf, karena gue selalu masuk peringkat tiga besar, mereka memuji gue. Berkata bahwa gue pinter. Sok baik. Namun, di belakang gue, mereka menusuk-nusuk gue dengan gergaji mesin.
Apa yang kurang, coba.
Gue sudah tidak kuat. Gue tidak sekuat pria. Gue tidak bisa bela diri.
Sampai-sampai, gue berpikir kalau gue ingin membunuh diri.
Dan sekarang, persoalan gue di rumah. Gue memiliki tiga orang adik. Dan gue adalah anak pertama,
yang selalu dikeroyok oleh ketiga adik. Adik gue yang paling besar, seringkali berteriak ketika gue pulang sekolah, "Ayoo seraaang diaaaaaaaaaa."
Dan alhasl, gue dibacokin. Ditendangin, dipukulin. Dan itu tidak hanya sekali. Hal itu bisa terjadi sepuluh kali dalam sehari. Gue tidak pernah melawan, gue hanya diam.
Sampai-sampai gue berpikir, gue ingin kabur dari rumah.
Suatu hari ketika kelas empat, gue mengemas barang-barang ke dalam tas. Makanan, minuman, uang, buku, dan berbagai hal lainnya. Gue loncat dari jendela, kabur dari rumah. Gue pergi seharian penuh. Sampai malam hari, gue ingin buang air. Tapi tidak tahu harus di mana. Akhirnya gue pulang ke rumah karena tidak tahan. Dan pulang-pulang, gue dimarahin gara-gara kabur.
Selesai.
Kepribadian gue di rumah. Gue adalah anak yang paling tertutup. Sepulang sekolah, gue ke kamar, menutup pintu. Gue buka handphone atau laptop gue. Online, mengerjakan naskah, atau membuat komik. Sampai malam, gue tidak keluar dari kamar, kecuali ingin minum atau ke kamar mandi. Gue kurang akrab dengan orangtua. Karena seharian gue menyendiri, menyendiri dalam kamar.
Teman-teman gue di sekolah yang baik, mungkin menganggap gue terlihat ceria. Tap sebenarnya hati gue menangis. Gue tidak pernah cerita kalau ada masalah. Gue tidak pernah berkata blak-blakan kalau benci dengan orang. Gue tidak pernah sekali pun berkata "tidak" kalau keberatan. Itu alasannya, hati gue benar-benar lembek.
Gue selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.
Tapi ... itu. Berlebihan.
profile.
introduction. {biography}
My biography? You just want to know, or really really want to know.
anime.
otaku.
Huh? For your information, i really love anime. Since i know about it, i'm really looked like a maniac. Yes, I love shounen manga. Shoujo? Un-like. But I just want to draw some shoujo manga 'cause i can't draw a boy (?). Yandere and tsundere is a best thing ever. And some anime or manga what i love is Hetalia, FairyTail, Eyeshield21, and Blue Exorcist.
story.
free page
“A—Apa?” Detak jantung Shiemi serasa berhenti selama sedetik. “Tolong—Ulangi sekali lagi.” Digenggamnya tangan kakaknya yang terus menariknya, membawanya keluar dari keramaian orang-orang yang berlalu-lalang di tengah pasar.
“Kubilang, Mayu meninggal. Apa kau tidak dengar?” Suara lawan bicara Shiemi—Mai—di telepon, terdengar samar. “Halo, Shiemi? Kau masih di sana?”
Shiemi terus berjalan, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Masa, sih. Enggak mungkin, enggak mungkin. Dua hari yang lalu dia sehat-sehat saja, batin Shiemi dengan panik.
“Shiemi ..?”
“Ah, iya,” ujar Shiemi—kembali berfokus pada omongan Mai. “Aku masih di sini.”
“Baguslah. Kemarin, Mayu ditemukan di lapangan. Mengerikan!” ujar Mai panas. “Katanya, dia jatuh dari atas gedung sekolah. Yah, begitulah apa yang kudengar. Sebaiknya kau segera kembali ke sekolah.”
Dan yang didapat Shiemi hanya pandangan kosong. Dia dan kakaknya berjalan mencapai lapangan parkir. Shiemi membuka pintu mobil pelan, lalu masuk dan menyandarkan tubuhnya di bangku mobil. Mengambil nafas dalam, dan membuangnya. Diingatnya suatu hal yang dilakukan Mayu dua hari yang lalu. Pikiran itu terus berputar dalam benaknya. Mayu, Mayu dan Mayu.
Apakah ini kenyataan? Pikir Shiemi. Tidak! Ini pasti mimpi.
Enggak mungkin Mayu meninggal.
***
Dua hari sebelumnya.
“Kau tahu, Shiemi?” Mayu membuka jendela gudang, menaiki kursi dan keluar melalui jendela. “Di sini, pemandangannya sangat indah.” Dia membantu Shiemi melompati jendela.
Shiemi memandang sekelilingnya dengan wajah kagum. “Wow. Aku baru menyadari kalau ada tempat seperti ini di gedung sekolah.”
tersenyum usil. “Kurasa ini bekas lapangan basket. Satu-satunya akses menuju tempat ini hanya melalui jendela gudang.” Ditunjuknya sekeliling. Sebuah lapangan luas di puncak gedung sekolah mereka.
“Bukankah ini lantai lima?” Shiemi menatap ke bawah gedung, meski harus berjingkat untuk mendongakkan kepalanya di tembok pembatas. Wajahnya memucat melihat keadaan di bawah gedung. “Di sini tinggi sekali. Kau tahu—aku sering mabuk ketinggian.”
“Fobia ketinggian, ya?” tanya Mayu sambil tertawa. “Kalau tak salah, itu disebut acrophobia.”
Shiemi mengangguk.
“Haaah, Shiemi.” Mayu memuntir-muntir ujung rambutnya yang panjang. “Menyenangkan bukan, jika kita bisa melompat ke bawah sana, terjun dengan bebas tanpa ada hambatan sekali pun,” ujarnya, membuat Shiemi menelan ludah.
“Itu mengerikan,” balasnya. “Mungkin, sama dengan bunuh diri.”
Saat itu juga, Mayu tersenyum.
***
Shiemi kaget dengan apa yang barusan dipikirkanya. Apa mungkin itu kuncinya. Kata-kata yang diucapkan Mayu ketika mereka naik ke puncak gedung sekolah dua hari yang lalu. Itu—
Menyenangkan bukan, jika kita bisa melompat ke bawah sana, terjun dengan bebas tanpa ada hambatan sekali pun.
Mata Shiemi membelalak. Jangan-jangan, itu maksudnya—
“Mayu ingin bunuh diri?” rutuknya dengan pandangan heran. Direbahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. “Dia loncat dari atas sana—bunuh diri. Apa itu mungkin, ah. Bisa jadi.”
Shiemi bangkit kembali, menggebrak meja. “Hilangkan pikiran aneh itu, Shiemi,” gumamnya. “Mayu enggak mungkin melakukan hal itu.” Shiemi merutuk dalam hati. Teringat kembali akan hal-hal menyenangkan yang dilakukannya bersama Mayu.
***
“Hei, Shiemi!” Sebuah kertas jatuh menimpuk kepala Shiemi. Serta merta gadis itu bangkit dari duduknya. Dilihatnya Mayu yang tersenyum usil ke arahnya. “Ke toilet, yuk,” ajak Mayu sedikit berbisik, suaranya masih terdengar walau dia duduk di bangku paling depan.
“Untuk apa?” Shiemi berdiri dan menyondongkan tubuhnya, posisinya yang berada di bangku paling belakang menyulitkannya untuk memandang langsung wajah Mayu.
“Aku ingin bicara denganmu!” Mayu mengisyaratkan untuk segera keluar. Shiemi mengangguk mantap. Dia berjalan menuju pintu kelas, membukanya dan langsung berlari keluar. Mayu mengikuti dengan tenang di belakangnya.
Mereka sampai di toilet. Shiemi berhenti, berbalik, lalu memandang Mayu dengan heran. “Mengapa kau terlihat tenang sekali?”
“Memangnya kenapa?” Pertanyaan Shiemi malah dibalas dengan tatapan heran Mayu.
“Kau harusnya lebih cepat. Bisa saja ketahuan guru.”
Mayu tertawa dengan suara tawanya yang liar. “Ha-ha-ha. Gadis Kecil, buat apa aku takut akan hal itu? Santai saja. Terburu-buru itu tidak baik.”
Shiemi memandang Mayu dengan tatapan aneh. “Baiklah,” katanya sok-mengerti. “Sekarang, apa yang ingin kau bicarakan?”
“Hmmm, sebenarnya ini cukup sulit bagiku, karena aku tidak pernah melakukannya.” Mayu menggaruk-garuk kepalanya—kebiasaan yang tak dapat dihentikannya sejak kecil. “Um. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Maukah kau menjadi sahabatku? Yah—Kupikir, kau teman yang baik.”
Shiemi mengangguk setuju. “Tentu saja. Itu kabar baik.”
“Mengapa?”
“Kalau punya banyak sahabat, senang-lah.” Shiemi mengajak Mayu masuk kembali ke dalam kelas. Mereka mengendap-endap, lalu duduk kembali di bangku masing-masing. Shiemi akan selalu mengingat hal itu. Pertama kalinya ia bersahabat dengan Mayu, dan untuk pertama kalinya juga ia kabur saat pelajaran.
|