w i f u e
wifeu of your bias
About. Anime. Story. Link. Home. Twitter. Tumblr. Follow. Blogskins.
Gue.
Jumat, 08 Maret 2013 | 16.06 | 0 comments

Yoo.

Sebenarnya gue sedikit kebingungan. Gue berbicara dengan sebuah bahasa yang bernama 'Lu-Gue'. Tapi, gue juga berbicara dengan bahasa baku yang sangat sopan. Memakai tanda titik, lagi. Hu-waaah. Gue sama sekali tidak peduli dengan E-Y-D atau apalah namanya yang aneh itu. Apakah gue ingin bertanya dengan tanda titik—bukan tanda tanya—terserah pada gue.


Gue adalah seorang gadis yang benar-benar tersiksa.


Tersiksa. Ya, tersiksa. Baik di sekolah, mau pun di rumah. Gue masih kecil. Masih duduk di Sekolah Dasar. Dan gue masih berumur dua belas tahun. Gue masih menuntut ilmu. 


Di sekolah. Gue memiliki banyak sekali teman. Ada yang baik, dan ada yang—mungkin—jahat. Gue punya sahabat dan musuh. Sahabat, hanya sedikit. Itu pun, mungkin tidak bisa dikatakan sebagai seorang sahabat sejati. Mereka, sahabat-sahabat gue, juga memiliki sahabat lain. Dan kemungkinan besar hubungan sahabat gue dengan sahabatnya yang lain lebih erat.


Soal musuh di sekolah gue,  itu-lah yang paling membuat gue menderita.


Gue dikucilin.


Gue difitnah.


Gue diledek.


Gue dipukul.


Gue dicerca.


Gue diusir dari rumah teman sendiri.


Gue ... Mereka bertindak di hadapan gue, seolah-olah mereka baik. Karena gue suka gambar, dan maaf, karena gue selalu masuk peringkat tiga besar, mereka memuji gue. Berkata bahwa gue pinter. Sok baik. Namun, di belakang gue, mereka menusuk-nusuk gue dengan gergaji mesin.


Apa yang kurang, coba.


Gue sudah tidak kuat. Gue tidak sekuat pria. Gue tidak bisa bela diri.


Sampai-sampai, gue berpikir kalau gue ingin membunuh diri.


Dan sekarang, persoalan gue di rumah. Gue memiliki tiga orang adik. Dan gue adalah anak pertama, 

yang selalu  dikeroyok oleh ketiga adik. Adik gue yang paling besar, seringkali berteriak ketika gue pulang sekolah, "Ayoo seraaang diaaaaaaaaaa."
Dan alhasl, gue dibacokin. Ditendangin, dipukulin. Dan itu tidak hanya sekali. Hal itu bisa terjadi sepuluh kali dalam sehari. Gue tidak pernah melawan, gue hanya diam.
Sampai-sampai gue berpikir, gue ingin kabur dari rumah.

Suatu hari ketika kelas empat, gue mengemas barang-barang ke dalam tas. Makanan, minuman, uang, buku, dan berbagai hal lainnya. Gue loncat dari jendela, kabur dari rumah. Gue pergi seharian penuh. Sampai malam hari, gue ingin buang air. Tapi tidak tahu harus di mana. Akhirnya gue pulang ke rumah karena tidak tahan. Dan pulang-pulang, gue dimarahin gara-gara kabur.


Selesai.


Kepribadian gue di rumah. Gue adalah anak yang paling tertutup. Sepulang sekolah, gue ke kamar, menutup pintu. Gue buka handphone atau laptop gue. Online, mengerjakan naskah, atau membuat komik. Sampai malam, gue tidak keluar dari kamar, kecuali ingin minum atau ke kamar mandi. Gue kurang akrab dengan orangtua. Karena seharian gue menyendiri, menyendiri dalam kamar.


Teman-teman gue di sekolah yang baik, mungkin menganggap gue terlihat ceria. Tap sebenarnya hati gue menangis. Gue tidak pernah cerita kalau ada masalah. Gue tidak pernah berkata blak-blakan kalau benci dengan orang. Gue tidak pernah sekali pun berkata "tidak" kalau keberatan. Itu alasannya, hati gue benar-benar lembek. 


Gue selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.


Tapi ... itu. Berlebihan.